Jumat, 05 Oktober 2012

pemeriksaan fisik pada bayi dan balita


BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang
Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang dialami oleh pasien. Pemeriksaan fisik bertujuan untuk :
a.         mengumpulkan data tentang kesehatan pasien,
b.        menambah informasi,
c.         menyangkal data yang diperoleh dari riwayat pasien,
d.        mengidentifikasi masalah pasien,
e.         menilai perubahan status pasien,
f.         mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah diberikan.
Dalam melakukan pemeriksaan fisik terdapat teknik dasar yang perlu dipahami, antara lain inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Dengan petunjuk yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik, ahli medis dapat menyususn sebuah diagnosis diferensial, yakni sebuah daftar penyebab yang mungkin menyebabkan gejala tersebut. Beberapa tes akan dilakukan untuk meyakinkan penyebab tersebut. Sebuah pemeriksaan yang lengkap akan terdiri dari penilaian kondisi pasien secara umum dan sistem organ yang spesifik. Dalam prakteknya, tanda vital atau pemeriksaan suhu, denyut dan tekanan darah selalu dilakukan pertama kali.
Bayi dan balita adalah sosok yang rentan dan belum terlalu kuat. Namun bayi dan balita juga perlu pemeriksaan fisik untuk mengetahui keadaan fisik tersebut sehingga diperlukan juga pemeriksaan fisik  bayi dan balita.
B.        Tujuan
a.         Menilai gangguan adaptasi bayi baru lahir dari kehidupan dalam uterus ke luar uterus yang memerlukan resusitasi.
b.         Untuk menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu tindakan segera.
c.         Menentukan apakah bayi baru lahir dapat dirawat bersama ibu (rawat gabung) atau tempat perawatan khusus.
d.        Mengetahui dan memahami pemeriksaan fisik pada bayi dan balita yang mencakup pemeriksaan seluruh anggota tubuh.
C.       Rumusan Masalah
Bagaimana cara memeriksa fisik yang baik pada bayi dan balita?
D.       Manfaat
Mengetahui cara-cara pemeriksaan fisik yang baik dan benar pada ayi dan balita dan juga cara perawatannya.


BAB II
PEMBAHASAN


PEMERIKSAAN FISIK BAYI
Pemeriksaan fisik pada bayi dapat dilakukan oleh bidan, perawat atau dokter untuk menilai status kesehatannya. Waktu  pemeriksaan fisik dapat dilakukan saat bayi baru lahir, 24 jam setelah lahir, dan akan pulang dari rumah sakit.
Sebelum melakukan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
a.         Bayi sebaiknya dalam keadaan telanjang di bawah lampu terang sehingga bayi tidak mudah kehilangan panas, atau lepaskan pakaian hanya pada daerah yang diperiksa.
b.         Lakukan prosedur secara berurutan dari kepala ke kaki atau lakukan prosedur yang memerlukan observasi ketat lebih dahulu, seperti paru, jantung dan abdomen.
c.         Lakukan prosedur yang mengganggu bayi, seperti pemeriksaan refleks pada tahap akhir.
d.        Bicara lembut, pegang tangan bayi di atas dadanya atau lainnya.
Kegiatan ini merupakan pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan yang bertujuan untuk memastikan normalitas dan mendeteksi adanya penyimpangan dari normal. Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang diperlukan.  Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.
A.            Prinsip Pemeriksaan Pada Bayi Baru Lahir
a.          Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan.
b.         Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tangan dan pastikan pencahayaan baik.
c.          Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka bagian yang akan diperiksa (jika bayi telanjang pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar) dan segera selimuti kembali dengan cepat, periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh.
B.            Peralatan Dan Perlengkapan
a.         Kapas.
b.        Senter.
c.         Termometer.
d.        Stetoskop.
e.         Selimut Bayi.
f.         Bengkok.
g.        Timbangan Bayi.
h.        Pita Ukur/Metlin..
i.          Pengukur Panjang Badan
C.           Prosedur
a.        Persiapan Diri dan Pasien
1.         Jelaskan pada ibu dan keluarga maksud dan tujuan dilakukan pemeriksan.
2.         Lakukan anamnesa riwayat dari ibu meliputi faktor genetik, faktor lingkungan, sosial, faktor ibu (maternal), faktor perinatal, intranatal, dan neonatal.
3.         Susun alat secara ergonomis.
4.         Cuci tangan menggunakan sabun dibawah air mengalir, keringkan dengan handuk bersih.
5.         Memakai sarung tangan.
6.         Letakkan bayi pada tempat yang rata.
b.        Pengukuran Anthopometri
1.         Penimbangan berat badan
Letakkan kain atau kertas pelindung diatas timbangan dan atur skala penimbangan ke titik nol sebelum penimbangan. Hasil timbangan dikurangi berat alas dan pembungkus bayi. Kemudian catat hasilnya.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\2592823_20120813121346.png
NO
UMUR
BERAT BADAN (kg)
1
Lahir
3,4
2
0-1 bulan
4,3
3
2 bulan
5
4
3 bulan
5,7
5
4 bulan
6,3
6
5 bulan
6,9
7
6 bulan
7,4
8
7 bulan
8
9
8 bulan
8,4
10
9 bulan
8,9
11
10 bulan
9,3
12
11 bulan
9,6
13
12 bulan
9,9
14
1 tahun 3 bulan
10,6
15
1 tahun 6 bulan
11,3
16
1 tahun 9 bulan
11,9
17
2 tahun
12,4
18
2 tahun 3 bulan
12,9
19
2 tahun 6 bulan
13,5
20
2 tahun 9 bulan
14
21
3 tahun
14,5
22
3 tahun 3 bulan
15
23
3 tahun 6 bulan
15,5
24
3 tahun 9 bulan
16
25
4 tahun
16,5
26
4 tahun 3 bulan
17
27
4 tahun 6 bulan
17,4
28
4 tahun 9 bulan
17,9
29
5 tahun
18,4

2.         Pengukuran panjang badan
Letakkan bayi di tempat yang datar. Ukur panjang badan dari kepala sampai tumit dengan kaki/badan bayi diluruskan. Alat ukur harus terbuat dari bahan yang tidak lentur. Catat hasilnya.
Description: F:\url.jpg
NO
UMUR
TINGGI BADAN (kg)
1
Lahir
50,5
2
0-1 bulan
55,0
3
2 bulan
58
4
3 bulan
60
5
4 bulan
62,5
6
5 bulan
64,5
7
6 bulan
66
8
7 bulan
67,5
9
8 bulan
69,0
10
9 bulan
70,5
11
10 bulan
72,0
12
11 bulan
73,5
13
12 bulan
74,5
14
1 tahun 3 bulan
78,0
15
1 tahun 6 bulan
81,5
16
1 tahun 9 bulan
84,5
17
2 tahun
87
18
2 tahun 3 bulan
89,5
19
2 tahun 6 bulan
92,0
20
2 tahun 9 bulan
94,0
21
3 tahun
96,0
22
3 tahun 3 bulan
98,0
23
3 tahun 6 bulan
99,5
24
3 tahun 9 bulan
101,5
25
4 tahun
103,5
26
4 tahun 3 bulan
105,0
27
4 tahun 6 bulan
107,0
28
4 tahun 9 bulan
108,0
29
5 tahun
109

3.         Pengukuran lingkar kepala
Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian melingkari kepala kembali lagi ke dahi. Catat hasilnya.
Description: F:\1048371620X310.jpg
a.    Lingkar kepala BBL : 33-35 cm (Lebih dari lingkar dada)
b.    Kenaikan lingkar kepala tahun pertama 44-47 cm.
c.    Perkiraan lingkar kepala :
·         6   bulan           : 44 cm
·         1   tahun          : 47  cm
·         2   tahun          : 49  cm

4.         Pengukuran lingkar dada
Ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung kembali ke dada (pengukuran dilakukan melalui kedua puting susu).
c.         Pemeriksaan Kepala
Raba sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan tampilannya normal. Sutura yang berjarak lebar mengindikasikan bayi preterm, moulding yang buruk atau hidrosefalus. Pada kelahiran spontan letak kepala, sering terlihat tulang kepala tumpang tindih yang disebut moulding/moulase. Keadaan ini normal kembali setelah beberapa hari sehingga ubun-ubun mudah diraba.
Perhatikan  ukuran dan ketegangannya. Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang besar dapat terjadi akibat prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil terjadi pada mikrosefali. Jika fontanel menonjol, hal ini diakibatkan peningkatan tekanan intakranial, sedangkan yang cekung dapat terjadi akibat dehidrasi. Terkadang teraba fontanel ketiga,  antara fontanel anterior dan posterior, hal ini terjadi karena adanya trisomi.
Periksa adanya trauma kelahiran misalnya; caput suksedaneum, sefal hematoma, perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\caput3new.jpg
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\Osteogenesi- Imperfecta.jpg
Caput succedaneum                                   fraktur tulang
Perhatikan  adanya kelainan kongenital seperti; anensefali, mikrosefali, kraniotabes dan sebagainya.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\anensefali.jpg
anancepali

Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\kranio.jpg
Kraniotabes
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\mikrosefali.jpg
mikrocepali


Cara:
1.        Lakukan inspeksi daerah kepala.
2.        Lakukan penilaian pada bagian tersebut, diantaranya:
a.         Maulage yaitu tulang tengkorak yang saling menumpuk pada saat lahir asimetri atau tidak.
b.         Ada tidaknya caput succedaneum, yaitu edema pada kulit kepala, lunak dan tidak berfiuktuasi, batasnya tidak tegas, dan menyeberangi sutura dan akan hilang dalam beberapa hari.
c.          Ada tidaknya cephal haematum, yang terjadi sesaat setelah lahir dan tidak tampak  pada hari pertama karena tertutup oleh caput succedaneum.
Ciri-cirinya :
a)             konsistensi lunak
b)            berfluktuasi
c)             berbatas tegas pada tepi tulang tengkorak
d)            tidak menyeberangi sutura dan apabila menyeberangi sutura kemungkinan mengalami fraktur tulang tengkorak.
Cephal haematum dapat hilang sempurna dalam waktu 2-6 bulan.
Ciri-ciri cephal haematum:
a)         Ada tidaknya perdarahan, yang terjadi karena pecahnya vena yang menghubungkan jaringan di luar sinus dalam tengkorak. Batasnya tidak tegas sehingga bentuk kepala tanpak asimetris, sering diraba terjadi fiuktuasi dan edema.
b)        Adanya fontanel dengan cara palpasi dengan menggunakan jari tangan. Fontanel posterior akan dilihat proses penutupan setelah umur 2 bulan dan fontanel anterior menutup saat usia 12-18 bulan. Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\cepal 3.jpg
Cepal haematum
d.        Pemeriksaan Wajah
Wajah harus tampak simetris. Terkadang wajah bayi tampak asimetris hal ini dikarenakan posisi bayi di intrauteri. Perhatikan kelainan wajah yang khas seperti sindrom down atau sindrom  piere robin. Perhatikan juga kelainan wajah akibat trauma lahir seperti laserasi, paresi  N.fasialis.
e.         Pemeriksaan Mata
Pemeriksaan mata di lakukan pada kelopak mata untuk menilai ada/tidaknya kemerahan atau  pembengkakan yaitu nanah yang keluar dari mata, dan perdarahan subkonjungtiva.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\konjungtivitis.jpg
Langkah – langkah :
1.        Goyangkan  kepala bayi secara perlahan-lahan supaya mata bayi terbuka.
2.        Periksa jumlah, posisi atau letak mata.
3.        Periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna.
4.        Periksa adanya glaukoma kongenital.
Mulanya akan tampak sebagai pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea. Katarak kongenital akan mudah terlihat yaitu pupil berwarna putih. Pupil harus tampak bulat. Terkadang ditemukan bentuk seperti lubang kunci (kolobama) yang dapat mengindikasikan adanya defek retina.
5.        Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau retina.
6.        Periksa adanya sekret pada mata, konjungtivitis oleh kuman gonokokus dapat menjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan. Apabila ditemukan epichantus melebar kemungkinan bayi mengalami sindrom down.
Cara mengidentifikasi kelainan mata
1.        Lakukan speksi daerah mata.
2.        Tentukan penilaian ada tidaknya kelainan, seperti:
a)         Strabismus (koordinasi gerakan mata yang belum sempurna), dengan cara menggoyang kepala secara perlahan-lahan sehingga mata bayi akan terbuka.
b)        Kebutaan, seperti jarang berkedip atau sensitifitas terhadap cahaya berkurang.
c)         Sindrom Down, ditemukan epicanthus melebar.
d)        Glaukoma kongenital, terlihat pembesaran dan terjadi kekeruhan pada kornea.
e)         Katarak kongenital, apabila terlihat pupil yang berwarna putih.
f.         Pemeriksaan Hidung
Kaji bentuk dan  lebar hidung,  pada bayi cukup bulan lebarnya harus lebih dari 2,5 cm. Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui mulut harus diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas karena atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring. Periksa adanya sekret yang mukopurulen yang terkadang berdarah , hal ini kemungkinan adanya sifilis congenital.
Periksa adanya pernapasan cuping hidung, jika cuping hidung mengembang menunjukkan adanya gangguan pernapasan.
Cara:
1.        Amati pola pernapasan, apabila bayi bernapas melalui mulut maka kemungkinan bayi mengalami obstruksi jalan napas karena adanya atresia koana bilateral, fraktur tulang hidung, atau ensefalokel yang menojol ke nasofaring. Sedangkan pernapasan cuping hidung akan menujukkan gangguan pada paru.
2.        Amati mukosa lubang hidung, apabila terdapat sekret mukopurulen dan berdarah perlu,dipikirkan adanya penyakit sifilis kongenital dan kemungkinan lain.
g.        Pemeriksaan Mulut
Perhatikan  mulut bayi, bibir harus berbentuk dan simetris. Ketidaksimetrisan bibir menunjukkan adanya palsi wajah. Mulut yang kecil menunjukkan mikrognatia.
Periksa adanya bibir sumbing, adanya gigi atau ranula (kista lunak yang berasal dari dasar mulut).
Periksa keutuhan langit - langit, terutama pada persambungan antara palatum keras dan lunak. Perhatikan adanya bercak putih pada gusi atau  palatum  yang biasanya terjadi akibat Epistein’s pearl atau gigi.
Periksa lidah apakah  membesar atau sering bergerak. Bayi dengan edema otak atau tekanan intrakranial meninggi seringkali lidahnya keluar masuk (tanda foote).
 Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\bibir.JPG
Cara:
1.        Lakukan inspeksi adanya kista yang ada pada mukosa mulut.
2.        Amati warna, kemampuan refieks menghisap.
3.        Apabila lidah menjulur keluar dapat dinilai adanya kecacatan kongenital.
4.        Amati adanya bercak pada mukosa mulut, palatum dan pipi bisanya disebut sebagai Monilia albicans.
5.         Amati gusi dan gigi, untuk menilai adanya pigmen.

h.        Pemeriksaan Telinga
Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya.Pada bayi cukup bulan, tulang rawan sudah matang.Daun telinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang jelas dibagian atas.
Perhatikan letak daun telinga. Daun telinga yang letaknya rendah (low set ears) terdapat pada bayi yang mengalami sindrom tertentu (Pierre-robin).
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\low-ears-tri18.jpg
Perhatikan adanya kulit tambahan atau aurikel hal ini dapat berhubungan dengan abnormalitas ginjal.
Cara:
Bunyikan bel atau suara, apabila terjadi reflek terkejut maka pendengarannya baik, kemudian apabila tidak terjadi refleks maka kemungkinan akan terjadi gangguan pendengaran.
i.          Pemeriksaan Leher
Leher bayi biasanya pendek dan harus diperiksa kesimetrisannya. Pergerakannya harus baik.
Jika terdapat keterbatasan pergerakan kemungkinan ada kelainan tulang leher.
Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pada fleksus brakhialis.
Lakukan perabaan untuk mengidentifikasi adanya pembengkakan.periksa adanya pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis.
Adanya lipatan kulit yang berlebihan di bagian belakang leher menunjukkan adanya kemungkinan trisomi.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\Trisomy-13_KailaRecent.jpg
trisomi
Cara:
Amati pergerakan leher apabila terjadi keterbatasan dalam pergerakannya maka kemungkinan terjadi kelainan pada tulang leher. Seperti kelainan tiroid,  himangiona dan lain-lain.
j.        Pemeriksaan tangan

Kedua lengan harus sama panjang, periksa dengan cara meluruskan kedua lengan ke bawah. Kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang kemungkinan adanya kerusakan neurologis atau fraktur. Periksa jumlah jari. Perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili. Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan abnormaltas kromosom, seperti trisomi 21. Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut sehingga menimbulkan luka dan perdarahan.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\Polidaktili (Jari Tambahan Pada Jari Kaki Yang Paling Berat).jpg
Polidaktilli                 

k.      Pemeriksaan genetalia

Pada bayi laki-laki panjang penis 3-4 cm dan lebar 1-1,3 cm.Periksa posisi lubang uretra. Prepusium tidak boleh ditarik karena akan menyebabkan fimosis. Periksa adanya hipospadia dan epispadia. Skrortum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah testis ada dua. Pada bayi perempuan cukup bulan labia mayora menutupi labia minora. Lubang uretra terpisah dengan lubang vagina. Terkadang tampak adanya sekret yang berdarah dari vagina, hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon ibu (withdrawl bedding).

l.        Pemeriksaan anus dan rectum
Anus dan rectum. Periksa adanya kelainan atresia ani , kaji posisinya
Mekonium secara umum keluar pada 24 jam pertama, jika sampai 48 jam belumkeluar kemungkinan adanya mekonium plug syndrom, megakolon atau obstruksi saluran pencernaan.

m.    Pemeriksaan kaki
Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki. Periksa panjang kedua kaki dengan meluruskan keduanya dan bandingkan. Kedua tungkai harus dapat bergerak bebas. Kuraknya gerakan berkaitan dengan adanya trauma, misalnya fraktur, kerusakan neurologis. Periksa adanya polidaktili atau sidaktili padajari kaki.
PEMERIKSAAN FISIK BALITA
Pemeriksaan  ini bertujuan untuk memperoleh data status kesehatan anak dan sebagai dasar dalam  menegakkan diagnosis. Pemeriksaan pada anak meliputi keadaan umum dan keadaan khusus. Pemeriksaan yang dilakukan yaitu pemeriksaan wajah, mata, telinga, hidung, mulut, faring, laring, dan leher.
A.           Pemeriksaan Kepala
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menilai lingkar kepala. Lingkar kepala yang lebih besar dari normal disebut makrosefali, biasanya ditemukan pada penyakit hidrocephalus. Sedangkan lingkar kepala kurang dari normal disebut mikrosefali.
Pemeriksaan lain yang dilakukan pada ubun-ubun atau fontanel. Dalam  keadaan  normal ubun-ubun  berbentuk datar. Ubun-ubun besar dan menonjol dapat ditemukan pada keadaan tekanan intrakranial meninggi. Ubun-ubun cekung dapat ditemukan pada kasus dehidrasi dan malnutrisi.
B.            Pemeriksaan Wajah
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menilai apakah asimetri atau tidak. Wajah asimetri dapat disebabkan oleh adanya paralisis fasialis, serta dapat menilai adanya pembengkakan daerah wajah.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\bells-palsy.gif
C.           Pemeriksaan Mata
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menilai adanya virus atau ketajaman penglihatan. Pemeriksaan virus ini dapat dilakukan dengan pemberian rangsangan cahaya (khusus neonatus).
Pemeriksaan mata yang lain adalah  menilai apakah terdapat palpebra simetris atau tidak. Kelainan yang muncul antara lain :
a)        Ptosis adalah palpebra tidak dapat terbuka.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\ptosis_bells_palsy.jpg
Penurunan kelopak mata
b)       Lagoftalmos yaitu kelopak mata yang tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga kornea tidak dilindungi oleh kelopak mata.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\legokjhbh.jpg
c)        ditandai dengan kedua belah mata tidak tertutup sempurna.
d)       Hordeolum merupakan infeksi lokal pada palpebra.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\hordeolum_stye.jpg
Pemeriksaan kelenjar lakrimalis dan duktus nasolakrimalis juga dapat diketahui dengan jumlah produksi air mata. Produksi air mata yang berlebihan disebut epifora. Selain itu, pemeriksaan konjungtiva dilakukan untuk menilai ada tidaknya perdarahan subkonjungtiva yang dapat ditandai dengan adanya hiperemia dan edema konjungtiva palpebra.
Pemeriksaan sklera bertujuan untuk menilai warna, yang dalam keadaan normal berwarna putih. Apabila ditemukan warna lain, kemungkinan ada indikasi penyakit lain. Pemeriksaan juga menilai kejernihan kornea.  Apabila ada radang,  kornea akan tampak keruh.
Pemeriksaan pupil. Secara normal, pupil berbentuk bulat dan simetris. Apabila diberikan sinar akan mengecil. Midriasis atau dilatasi pupil menunjukkan adanya rangsangan simpatis. Sedangkan miosis menunjukkan keadaan pupil yang mengecil. Pupil yang berwarna putih menunjukkan kemungkinan adanya penyakit katarak.
Pemeriksaan jernih atau keruhnya lensa dilakukan untuk pemeriksaan adanya kemungkinan katarak. Lensa yang keruh dapat menjadi indikasi adanya kemungkinan katarak.
Pemeriksaan bola mata. Kondisi bola mata yang menonjol disebut eksoftalmos dan bola mata yang mengecil disebut enoftalmos. Starbismus atau juling merupakan sumbu visual yang tidak sejajar pada lapang gerakan bola mata. Selain itu, terdapat nistagmus merupakan gerakan bola mata ritmik yang cepat dan horizontal.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\dock.jpg

D.           Pemeriksaan Telinga
Pemeriksaan telinga dapat dilakukan mulai telinga bagian luar, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam.
Pada pemeriksaan telinga bagian luar dapat dimulai dengan pemeriksaan daun telinga dengan menentukan bentuk, besar dan posisinya. Pemeriksaan liang telinga ini dapat dilakukan dengan bantuan otoskop. Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan membran timpani. Membran timpani yang normal akan berbetuk sedikit cekung dan mengkilat. Kemudian, dapat dilihat apakah terdapat perforasi atau tidak. Pemeriksaan mastoid bertujuan untuk melihat adanya pembengkakan pada daerah mastoid. Pemeriksaan pendengaran dilaksanakan dengan bantuan garputala untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan atau tidak.
E.            Pemeriksaan Hidung
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menilai adanya kelainan bentuk hidung dan juga menentukan ada tidaknya epistaksis. Pemeriksaan yang dapat digunakan adalah pemeriksaan rhinoskopi anterior dan posterior.
F.            Pemeriksaan Mulut
Pemeriksaan mulut bertujuan untuk menentukan ada tidaknya,
a)             Trismus yaitu kesukaran membuka mulut.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\teta.JPG
b)             Halitosis yaitu bau mulut tidak sedap karena personal hygine yang kurang.
c)             Labioskisis yaitu keadaan bibir yang tidak simetris.
Description: C:\Users\acer\Documents\kdk 1\gambar\belibis-a17-labioschisis.jpg
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada gusi untuk menilai edema atau tanda-tanda radang.
Pemeriksaan lidah bertujuan untuk menilai apakah terjadi kelainan kongenital atau tidak. Keadaan yang dapat ditemukan adalah,
a)             Makroglosia yaitu lidah yang terlalu besar.
b)             Mikroglosia yaitu lidahnya terlalu kecil.
c)             Glosoptosis yaitu lidah tertarik ke belakang.
Kemudian dapat diperiksa ada tidaknya tremor dengan menjulurkan lidah.
Pemeriksaan gigi anak. Pertumbuhan gigi susu dimulai pada umur 5 bulan, tetapi kadang-kadang satu tahun. Pada umur 3 tahun, ke-20 gigi susu akan tumbuh. Kelainan yang dapat ditemuakn pada gigi antara lain yaitu adanya karies gigi yang terjadi akibat infeksi bakteri. Pemeriksaan selanjutnya yaitu melihat banyaknya pengeluaran saliva. Hipersaliva pada anak-anak kemungkinan terjadi karena gigi mereka akan tumbuh, atau mungkin terjadi karena proses peradangan yang lain.
G.           Pemeriksaan Faring
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menilai adanya hiperemia, edema, abses baik retrofaringeal atau peritonsilar. Edema faring umumnya ditandai dengan mukosa yang pucat dan sembab, serta dapat ditentukan adanya bercak putih abu-abu yang sulit diangkat pada difteri (pseudomembran).
H.           Pemeriksaan Laring
Pemeriksaan laring ini sangat berhubungan dengan pemeriksaan pernapasan. Apabila ditemukan  obstruksi pada laring,  maka suara mengalami stridor yang disertai dengan batuk dan suara sesak.  Pemeriksaan laring dilakukan  dengan menggunakan alat laringoskop, baik secara langsung  maupun  tidak langsung,  dengan cara dimasukkan ke dalam secara perlahan-lahan dengan lidah ditarik ke luar.
I.              Pemeriksaan Leher
Pemeriksaan leher dilakukan dengan menilai adanya tekanan vena jugularis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengondisikan pasien dalam kondisi telentang dengan dada dan  kepala diangkat setinggi 15º  - 30º,  kemudian dicek apakah terdapat distensi pada vena jugularis. Selanjutnya lakukan pemeriksaan untuk menilai ada atau tidaknya massa dalam leher.

BAB III
PENUTUP


A.           Kesimpulan
Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang dialami oleh pasien. Dalam melakukan pemeriksaan fisik terdapat teknik dasar yang perlu dipahami, antara lain inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Dalam pemeriksaan fisik pada bayi dan balita ini beda dengan orang dewasa.
Pemeriksaan fisik pada bayi dan balita ini dilakukan sebagai pengkajian fisik yang dilakukan oleh bidan yang bertujuan untuk memastikan normalitas & mendeteksi adanya penyimpangan dari normal.
Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang diperlukan.
Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan agar bayi tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.
Pemeriksaan fisik ini meliputi pemeriksan kepala, wajah, mata, hidung, mulut, telinga dan leher.
B.            Saran
Sebaiknya  tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan fisik di daerah kepala hingga leher ini dengan benar, hati- hati dan teliti.Ini dikarenakan kesalahan sedikit saja dapat menimbulkan dampak bagi bayi dan balita tersebut.


DAFTAR PUSTAKA


Uliyah, Musrifatul dan A. Azis Alimatul Hidayat.2008. Keterempilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan, Edisi 2.Jakarta : Salemba Medika.
Kusmuyati, Yuni. 2007. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar