Senin, 13 Mei 2013

kosong

kemarin kami menyaksikan sebuah penantian, berbuih-buih peluh jatuh dalam pelukan. warna dan kesakitan itu muncul perlahan tanpa ada luka. nyiris melihat burung-burung terbang tanpa sayap, melihat kemerahan yang jatuh dipelupuk mata bercampur dengan keegoisan yang mungkin tak tertahan.
sikap apatis dan tidak mampu dalam menahan emosi. cukup bagi kami melihat ketidakpuasan.
kami merasa dalam sebuah sandiwara keperluan dalam bicara adalah minim.

langit mulai gelap, sandiwara ini tak bisa diteruskan. penghentiannya pun penuh pengorbanan, tidak cukup satu atau dua jengkal. butuh sepanjang jalan untuk memperjuangkan sebuah komitmen yang telah di buat, membutuhkan simfoni simfoni yang dirangkai dalam ikatan irama untuk dapat membuat wajah wajah cantik itu luluh.

kemarin,
"apapun yang dia perjuangkanitu butuh pengorbanan yang sangat, dia tidak akan mampu" aku mendegar kata kata itu. entah untuk siapa.
"menurutku juga begitu, mana mungkin mampu mewujudkan cita cita yang sudah jelas tak sanggup ia hadapi.hahaha" kata kata yang lebih tajam aku dengar.
"dia merasa ingin lebih tinggi derajatnya dengan kita mungkin, haha. mimpi! mereka itu orang orang buangan yang sudah tidak terpakai di keluarga kita. silsilah keluarga kita tidak ada nama mereka.haha" orang yang pertama kembali menyambung. aku tak bisa melihat siapa wajahnya, seperti apa bentuk mulutnya yang sangat tajam ketika bicara.

siapapun, burung, cicak di dinding, ayam ayam yang kelaparan, kambing kambing penggembala, dan sapi betina putih itu aku tanya. siapa sebenarnya orang yang mereka maksud, aku ingin sangat mengetahuinya.
sepuluh jam setelah itu kembali rasa ingin tahu ini muncul. dan lagi aku melihat orang-orang berkumpul dan membicarakan,
tiga puluh menit aku menguping, satu nama mereka lontarkan. ibuku.
rasa rasanya aku ingin sekali membungkam mulut mereka danmereka aku bunuh. mutilasikan mereka dan membuat mereka terpisah satu sama lain, ingin melihat mereka menderita intinya.

terngiang selalu aku mendengar mereka. kata kata mereka bukan kata kata orang yang berderajat dan memiliki iman. mereka seperti orang yang tidak memiliki kemampuan untuk berfikir logis dan selalu negative thinking. maklum, mereka memang orang orang yang tidak terkontaminasi proses globalisasi.
terlalu sepi pikiran mereka, tidak dirasakan betapa sakitnya hati ini. cukup bagi saya diam dan merenung, memikirkan bagaimana aku membantah kata kata mereka. kata kata yang sadis dan tak pantas.

3 jam lalu,
"bagaimana kabar ibumu nduk?" kata uwa ku yang tak termasuk mereka.
"baik wa, alhamdulillah." kataku
"kamu yang sabar ya, kalau mau main kesini aja,"
"iya wa, ga aku pikirin kok wa.. yang penting kuliah dulu wa yang aku pikirin."
"oya, bagaimana kuliahmu nduk? itu, si ova mbok ya dibimbing. dia kan juga mau masuk kuliah" pinta wa ku
"ya emangnya ova mau masuk mana wa? udah ujian po?" tanyaku
"seminggu lagi kan dia ujian nduk, kema......" kata kata wa.ku terputus.
tiba tiba suara keras terdengar. "hahahahahahahhaaaaaaa"
"ssssst!!" isyarat wa ku,,

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
mendung yang bersahabat mulai datang, karena dia memberikan aku sebuah isyarat. akan datangnya pendamai suasana. suasana dimana aku mampu berupaya untuk mengingat masa masa kemarin yang Tuhan berikan padaku sebagai tanda bahwa Dia masih cinta.
masih memberikan kasih sayang yang tulus padaku,
dengan hujan, Tuhan juga memberikan aku kecupan manis lewat tangan tangan yang suci layaknya ibu dan bapakku.

30 judul sudah aku pikirkan matang-matang untuk menentukan kata yang tepay untuk kisahku ini. kisah dalam memorian sebuah harapan. tapi bukan untuk semangat. semangat untuk hidup semangat untuk berbicara dan semangat untuk membela. membela sebuah cita-cita yang mungkin mereka fikir sebuah joke yang aku sembahkan dengan bunga dan sesajen karena mereka ingin de ajeni mungkin.
seandainya kekuatan ini berkumpul menjadi satu dan membentuk awan musculus nimbus mungkin, akan memberikan efek positif untukku. karena ini adalah sebuah penantian.

sungai dan lautan mungkin akan menjadi satusatunya saksi gerak dan mampu memberikan jawaban yang rasional kepadaku. jawaban atas landasan kata kata mereka dan pola fikir mereka.


to be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar